Kerja sama ini menjadi langkah penting dalam memperkuat pengelolaan talenta riset nasional. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kedua institusi menilai bahwa keberhasilan riset tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ), tetapi juga oleh kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ) yang membentuk karakter kuat.

Pendiri UAG University, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, menekankan bahwa inovasi besar lahir dari kondisi mental yang optimal. Ia menjelaskan konsep “Gelombang Otak Alpha”, yaitu kondisi pikiran yang tenang dan jernih yang mampu meningkatkan kreativitas secara signifikan. Ia berharap momentum bulan Syawal menjadi awal lahirnya berbagai terobosan besar bagi Indonesia.

Ary juga menyoroti tantangan dalam pengembangan riset nasional, terutama pada sektor pangan, energi, dan air. Ia mengungkapkan bahwa jumlah peneliti di Indonesia masih relatif rendah, sekitar 300 per satu juta penduduk, dibandingkan Malaysia dan Korea Selatan yang sudah mencapai ribuan. Untuk mencapai target Indonesia Emas 2045, dibutuhkan peningkatan jumlah talenta IPTEK hingga 4.000 per satu juta penduduk.

Sebagai solusi, UAG University menawarkan pendekatan berbasis teknologi melalui platform TalentDNA yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Platform ini bertujuan memetakan potensi serta karakter peneliti secara lebih akurat sehingga pengembangan talenta dapat dilakukan secara efektif.

Ary Ginanjar juga menyampaikan visi agar BRIN dapat bertransformasi menjadi pusat kekuatan riset nasional pada tahun 2030, yang mampu mendorong hilirisasi inovasi secara luas dan menjadikan Indonesia sebagai negara berbasis riset yang berpengaruh di dunia.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi ini. Ia menilai bahwa pengelolaan talenta menjadi faktor kunci dalam mencetak periset unggul yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki dedikasi dan integritas tinggi.

Menurutnya, integrasi pembangunan karakter dalam ekosistem riset akan memperkuat lingkungan inovasi yang sehat dan berdampak luas. Pendekatan ESQ dinilai relevan untuk membentuk periset yang tangguh, berintegritas, dan memiliki daya tahan tinggi.

Arif juga menegaskan bahwa kekuatan ekonomi suatu negara sangat bergantung pada kekuatan risetnya. Oleh karena itu, BRIN diharapkan menjadi pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui inovasi, seperti pengembangan varietas unggul, paten, dan ilmuwan berkualitas.

Ia menambahkan bahwa riset harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, tidak berhenti hanya pada tahap laboratorium. Semangat yang ditanamkan kepada para peneliti adalah menghasilkan karya yang bermanfaat luas.

Selain itu, kerja sama ini juga membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen UAG University untuk memanfaatkan fasilitas BRIN, termasuk program Degree by Research, akses laboratorium, dan program magang.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi pemicu terbentuknya ekosistem manajemen talenta yang lebih terintegrasi. Dengan pengalaman Ary Ginanjar dalam pengembangan kepemimpinan berbasis nilai, sinergi ini diyakini mampu melahirkan generasi peneliti Indonesia yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.

Secara keseluruhan, kerja sama ini bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan komitmen nyata kedua institusi dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.